- Back to Home »
- Analisis Kultivasi Berdasarkan Paradigma Epistemologi Penelitian
Posted by : Kreatifitasi
Senin, 24 Desember 2018
Hai sahabat Kreatifitasi . Blog kali ini saya akan membahas tentang Analisis Kultivasi Berdasarkan Paradigma Epistemologi. Sebelum saya membahasnya. Saya akan menjelaskan terlebih dahulu “Apa itu Paradigma dan Epistemologi ?”
Mari Simak dengan baik ya, sahabat Kreatifitasi!.
Definisi Paradigma, Ahimsa-Putra (2005) memulai dengan mendefinisikan kerangka teori sebagai berikut:
“Seperangkat pernyataan tentang hakekat, cara memandang, cara merumuskan, dan cara menjawab suatu persoalan dengan menggunakan cara dan tata-urut tertentu, yang akan dapat menghasilkan pernyataan tertentu tentang persoalan tersebut”.
Thomas Khun (1970) Menekankan bahwa paradigma cenderung menjadi semakin melekat seiring dengan berjalannya waktu hingga paradigma tersebut di gantikan oleh cara pandang baru mengenai dunia yang terlibat lebih masuk akal bagi para peniliti. Kuhn menyebut proses ini sebagai revolusi ilmiah. Dalam Ilmu Alam, Contohnya, fisika menurut pemikiran Newton digantikan oleh Relativisme Einstein.
Paradigma berkisar pada tiga area, yang mewakili tiga pertanyaan filosofis yang berkaitan dengan penelitian : ontologi (ontogy), pertanyaan mengenai sifat realita, epistemologi (epistemology), pertanyaan mengenai bagaimana kita mengetahui sesuatu ; dan aksiologi (axiology), pertanyaan mengenai apa yang layak untuk diketahui.
Menurut Vardiansyah & Febriani (2017) Menyatakan bahwa Bagian epistemologi utamanya mengupas tentang teori ilmu pengetahuan, berasal dari kata Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (teori). Epistemologi mengkaji hakikat ilmu secara struktural. Sehingga, pada akhirnya, diharapkan dapat memberi gambaran bagaimana cara membangun pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan.
Bagian ini dimulai dengan membahas pertumbuhan pengetahuan manusia agar anda dapat melihat akar filosofis yang mendasari perspektif-perspektif ilmu komunikasi dalam membangun metodologi penelitiannya.
Menurut Abdul Mulkhan (1993) Epistemologi adalah segala macam bentuk aktivitas dan pemikiran manusia yang selalu mempertanyakan dari mana asal muasal ilmu pengetahuan itu diperoleh.
Dengan mempelajari epistemologi, kita dapat memiliki pemahaman yang jauh lebih mendalam mengenai suatu pengetahuan dibandingkan jika kita hanya menerima dan memahami fakta-fakta pengetahuan saja sehingga kita berpeluang besar untuk menemukan hal-hal atau teori baru.
Contoh epistemologi secara sederhana yaitu ketika mempelajari gaya gravitasi, kita tidak hanya mempelajari pengertian, rumus-rumus gravitasi, dan lain sebagainya. Kita juga akan mempelajari asal usul ditemukannya gaya gravitasi, sifat dan karakaternya, serta validitas gaya gravitasi dilihat dari bagaimana pengetahuan ini didapatkan.
Dua kegunaan epistemologi yang layak kita perhatikan: posisi Objektivitas dan subjektivitas. Epistemologi objektivis percaya bahwa sangat mungkin untuk menjelaskan dunia (Karena terdapat beberapa tipe kebenaran objektif yang ada tanpa kita sadari) dan bahwa ketika peneliti mempelajari dunia, mereka berusaha mengakumulasikan potongan-potongan kecil informasi mengenai kebenaran. Cara kita mempelajari kebenaran mengenai kehidupan sosial adalah melalui ilmuwan sosial yang menggabungkan semua potongan kecil informasi ini. Inilah mengapa para ilmuwan mencoba membublikasikan temuannya dan berkumpul dalam suatu pertemuan ilmiah untuk membagikan hasil penelitian mereka.
Sebaliknya epistemologi subjektivitas menolak penekanan bahwa kebenaran ada di luar dari orang yang mencari kebenaran. Para subjektivitas percaya bahwa dunia sosial bersifat relatif dan “hanya dapat dipahami melalui sudut pandang individu-individu secara langsung terlibat dalam kegiatan – kegiatan yang akan diteliti (Burrrel & Morgsn,1979.hal 5).
Setelah kita telah memahami apa itu Epistemologi, kini kita akan membahas Analisis Kultivasi.
Analisis Kultivasi
Menurut Gerbner (1999) Analisi Kultivasi adalah sebuah teori yang memprediksikan dan menjelaskan formasi dan pembentukan jangka panjang dari persepsi, pemahaman, dan keyakinan mengenai dunia sebagai akibat dari konsumsi akan pesan – pesan media. Garis pemikiran Gerbner dalam Analisi Kuktivasi menunjukan bahwa komunikasi massa, terutama televisi, mengkultivasi keyakinan tertentu mengenai kenyataan yang dianggap sebagai sesuatu yang umum oleh konsumen komunikasi massa.
Teori kultivasi pada dasarnya menyatakan bahwa televisi bertangggung jawab dalam membentuk atau mengkultivasi konsepsi atau cara pandang pemirsa televisi terhadap realitas sosial. Efek televisi yang menerpa khalayak secara terus menerus secara bertahap membentuk persepsi tentang realitas sosial bagi individu dan budaya secara keseluruhan. teori mengambarkan kekerasan dari televisi.
Asumsi Dasar Teori Kultivasi
Asumsi teori Analisis Kulitivasi yaitu sebagai berikut:
A. Keunikan dari Televisi
Televisi adalah satu-satunya medium yang pernah diciptakan yang tidak memiliki batasan usia. Maksudnya, orang dapat menggunakannya dalam tahun-tahun awal dan akhir dari kehidupan mereka, dan juga tahun-tahun diantaranya.
Televisi berada di dalam lebih 98 persen rumah di Amerika serikat. Keunikan televisi adalah televisi tidak membutuhkan kemampuan membaca, sebagaimana media cetak. Televisi tidak seperti film, televisi pada dasarnya gratis (selain biaya yang dikeluarkan pertama kali untuk pesawat dan biaya iklan yang ditambahkan para produk-produk yang kita beli). Televisi tidak seperti radio, televisi mengombinasikan gambar dan suara.
Televisi tidak membutuhkan mobilitas, sebagaimana pergi ke tempat ibadah minsalnya, atau pergi ke bioskop atau teater.
B. Dampak dari Televisi
Berbara Wilson dan koleganya (Wilson, Martin, & Marske, 2005) menemukan bahwa orang tua yang memberikan perhatian besar pada berita televisi berpikir bahwa anak-anak mereka memiliki resiko penculikan yang lebih besar dibandingkan orang tua yang lebih jarang menonton televisi.
Berdasarkan asumsi ini, Analisis Kultivasi memberikan cara pemikiran alternative mengenai kekerasan dalam TV. Beberapa teori, seperti teori pembelajaran Sosial-Social Learning Theory (Bandura, 1977), mengasumsikan bahwa kita cenderung melakukan kekerasan setelah terpapar kekerasan itu sendiri.
Pendekatan lain,seperti pemikiran mengenai katarsis, menyatakan bahwa menonton kekeraskan akan membersihkan diri kita dari dorongan untuk melakukan kekerasan dan tindakan melakukan kekerasa menjadi berkurang. Analisis Kultivasi tidak menyatakan mengenai apa yang kita lakukan berdasar menonton televisi yang penuh kekerasan melainkan, teori ini mengasumsikan bahwa menonton televisi yang penuh dengan kekerasan akan membuat kita merasa takut karena televisi menanamkan di dalam diri kita dunia yang kejam dan berbahaya.
C. Dampak dari Televisi terbatas
Asumsi ini terdengar aneh, namun kontribusi kepada budaya yang dapa diamati, diukur, daan idependen relatif kecil. Ukuran dari dampak jauh lebih tidak penting dibandingkan dengan arah ari kontribusinya yang berkelanjutan (Gerbner Gross, Morgan, & Signorielli, hal. 14).
Argumen ini menyatakan bahwa dampak dari televisi tidak memiliki konsekuensi. Sebaliknya, walaupun dampak televisi terhadap budaya yang dapat diukur, diamati, dan idependen pada suatu titik waktu tertentu mungkin terlihat kecil, dampak ini tetapi tetap saja ada dan signifikan. Lebih lanjut, Gerbner dan koleganya menyatakan bahwa ini bukan merupakan kasus dimana menonton tayangan program televisi tertentu akan menyebabkan suatu perilaku tertentu, tetapi menonton secara umum memiliki dampak yang kumulatif dan menyebar luas terhadap pandangan mengenai dunia.
Analisis Kultivasi sebagai Teori Kritis
Kultivasi terkadang dianggap sebagai kembalinya pandangan mengenai media massa yang memiliki dampak yang kuat.
Analisis Kultivasi sebagai teori yang kritis mempelajar institusi sosial yang penting dalam hal bagaimana ia menggunakan fungsi penceritaan kisahnya untuk kepentingan satu pihak dibandingkan kepentingan seluruh masyarakat yang lebih luas. Selain itu, Analisis Kultivasi juga memiliki karakteristik yang sama dengan teori kritis lainnya dalam menerima asumsi-asumsinya.
Analisis Kultivasi Berdasarkan Paradigma Epistemologi
White dan David Klien (2002) membahas mengenai tiga perbedaan filosofi dari Ontologi, epistemologi, dan aksiologi secaea terpisah. White dan Klein memberikan label pada tiga cara filosofis ini sebagai positivistik, interpretif, dan kritis. Tiga bentuk filosofi ini sesuai tiga cara pandang (empirisme, hermeneutika, dan teori kritis) yang dikaji oleh Arhur Bochner (1985).
Kebanyakan orang menemukann titik tengah yang mewakili cara pandang mereka terhadap dunia dengan di dasarkan pada tiga filosofi ini.
Pendekatan Positivistik atau Empiris ( Kuantitatif )
Pendekatan posivistik atau empiris beramsusi bahwa kebenaran objektif dapat dicapai dan bahwa proses meneliti untuk menemukan kebenaran dapat dilakukan, paling tidak, dengan bebas dari nilai. Tradisi ini mendukung metode ilmu alam, dengan tujuan untuk memberi membentuk teori yang bersifat umum dalam mengatur interaksi manusia.
Pendekatan Interpretif atau Hermeneutik ( Kualitatif )
Pendekatan Interpretif atau hermenutik melihat kebenaran sebagai sesuatu yang subjektif dan partisipasi peneliti sangat ditekankan.
Pendekatan Kritis
Pendekatan Kritis adalah Pendekatan yang menekankan pada tanggug jawab peneliti untuk mengubah ketidakadilan dalam kondisi status quo. Status quo berasal dari bahasa Latin, artinya 'keadaan tetap sebagaimana keadaan sekarang atau sebagaimana keadaan sebelumnya'. Jadi, mempertahankan status quo berarti mempertahankan keadaan sekarang yang tetap seperti keadaan sebelumnya.
Analisi Secara Kultivasi Secara Epistemologi kita dapat melihat Secara Posisi Objektivitas. Bahwa Televisi seharusnya menyajikan Program atau Berita secara Objektif dan Mendidik. Tanpa ada tambahan karangan cerita. yang dimana tayangan televisi harus memiliki tanggung jawab terhadap Kebenaran dari Program atau Berita yang mereka tayangkan. Sedangkan Secara Posisi Subjektivitas. Program Acara televisi tidak harus Objektif. Kita dapat memberikan sedikit tambahan cerita dalam Berita yang kita Siarkan agar lebih menarik dan banyak diminati. Contohnya seperti Sinetron.
Tetapi Seperti yang kita ketahui. Di Indonesia terdapat 2 Chanel TV Stasiun Swasta yang Memihak pada Salah satu Calon Presiden. Chanel A lebih Pro untuk memberitakan Presiden ini dan Menayangkan Keunggulan dari Calon Presiden ini. Dan Sebaliknya Chanel B. Sehingga disini terlihat Subjektivitas Dalam Penayangan Televisi.
Oke. Sahabat Kreatifitasi. Sekian Blog saya tentang Paradigma Epistemologi. Sampai Berjumpa diBlog saya berikutnya :) .
Daftar Pustaka
Erna Febriani, Dani Vardiansyah. (2017) Filsafat Ilmu Komunikasi: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi : Universitas Esa Unggul
West & Turner. (2008). Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.
Baktiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Mari Simak dengan baik ya, sahabat Kreatifitasi!.
Definisi Paradigma, Ahimsa-Putra (2005) memulai dengan mendefinisikan kerangka teori sebagai berikut:
“Seperangkat pernyataan tentang hakekat, cara memandang, cara merumuskan, dan cara menjawab suatu persoalan dengan menggunakan cara dan tata-urut tertentu, yang akan dapat menghasilkan pernyataan tertentu tentang persoalan tersebut”.
Thomas Khun (1970) Menekankan bahwa paradigma cenderung menjadi semakin melekat seiring dengan berjalannya waktu hingga paradigma tersebut di gantikan oleh cara pandang baru mengenai dunia yang terlibat lebih masuk akal bagi para peniliti. Kuhn menyebut proses ini sebagai revolusi ilmiah. Dalam Ilmu Alam, Contohnya, fisika menurut pemikiran Newton digantikan oleh Relativisme Einstein.
Paradigma berkisar pada tiga area, yang mewakili tiga pertanyaan filosofis yang berkaitan dengan penelitian : ontologi (ontogy), pertanyaan mengenai sifat realita, epistemologi (epistemology), pertanyaan mengenai bagaimana kita mengetahui sesuatu ; dan aksiologi (axiology), pertanyaan mengenai apa yang layak untuk diketahui.
Menurut Vardiansyah & Febriani (2017) Menyatakan bahwa Bagian epistemologi utamanya mengupas tentang teori ilmu pengetahuan, berasal dari kata Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (teori). Epistemologi mengkaji hakikat ilmu secara struktural. Sehingga, pada akhirnya, diharapkan dapat memberi gambaran bagaimana cara membangun pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan.
Bagian ini dimulai dengan membahas pertumbuhan pengetahuan manusia agar anda dapat melihat akar filosofis yang mendasari perspektif-perspektif ilmu komunikasi dalam membangun metodologi penelitiannya.
Menurut Abdul Mulkhan (1993) Epistemologi adalah segala macam bentuk aktivitas dan pemikiran manusia yang selalu mempertanyakan dari mana asal muasal ilmu pengetahuan itu diperoleh.
Dengan mempelajari epistemologi, kita dapat memiliki pemahaman yang jauh lebih mendalam mengenai suatu pengetahuan dibandingkan jika kita hanya menerima dan memahami fakta-fakta pengetahuan saja sehingga kita berpeluang besar untuk menemukan hal-hal atau teori baru.
Contoh epistemologi secara sederhana yaitu ketika mempelajari gaya gravitasi, kita tidak hanya mempelajari pengertian, rumus-rumus gravitasi, dan lain sebagainya. Kita juga akan mempelajari asal usul ditemukannya gaya gravitasi, sifat dan karakaternya, serta validitas gaya gravitasi dilihat dari bagaimana pengetahuan ini didapatkan.
Dua kegunaan epistemologi yang layak kita perhatikan: posisi Objektivitas dan subjektivitas. Epistemologi objektivis percaya bahwa sangat mungkin untuk menjelaskan dunia (Karena terdapat beberapa tipe kebenaran objektif yang ada tanpa kita sadari) dan bahwa ketika peneliti mempelajari dunia, mereka berusaha mengakumulasikan potongan-potongan kecil informasi mengenai kebenaran. Cara kita mempelajari kebenaran mengenai kehidupan sosial adalah melalui ilmuwan sosial yang menggabungkan semua potongan kecil informasi ini. Inilah mengapa para ilmuwan mencoba membublikasikan temuannya dan berkumpul dalam suatu pertemuan ilmiah untuk membagikan hasil penelitian mereka.
Sebaliknya epistemologi subjektivitas menolak penekanan bahwa kebenaran ada di luar dari orang yang mencari kebenaran. Para subjektivitas percaya bahwa dunia sosial bersifat relatif dan “hanya dapat dipahami melalui sudut pandang individu-individu secara langsung terlibat dalam kegiatan – kegiatan yang akan diteliti (Burrrel & Morgsn,1979.hal 5).
Setelah kita telah memahami apa itu Epistemologi, kini kita akan membahas Analisis Kultivasi.
Analisis Kultivasi
Menurut Gerbner (1999) Analisi Kultivasi adalah sebuah teori yang memprediksikan dan menjelaskan formasi dan pembentukan jangka panjang dari persepsi, pemahaman, dan keyakinan mengenai dunia sebagai akibat dari konsumsi akan pesan – pesan media. Garis pemikiran Gerbner dalam Analisi Kuktivasi menunjukan bahwa komunikasi massa, terutama televisi, mengkultivasi keyakinan tertentu mengenai kenyataan yang dianggap sebagai sesuatu yang umum oleh konsumen komunikasi massa.
Teori kultivasi pada dasarnya menyatakan bahwa televisi bertangggung jawab dalam membentuk atau mengkultivasi konsepsi atau cara pandang pemirsa televisi terhadap realitas sosial. Efek televisi yang menerpa khalayak secara terus menerus secara bertahap membentuk persepsi tentang realitas sosial bagi individu dan budaya secara keseluruhan. teori mengambarkan kekerasan dari televisi.
Asumsi Dasar Teori Kultivasi
Asumsi teori Analisis Kulitivasi yaitu sebagai berikut:
A. Keunikan dari Televisi
Televisi adalah satu-satunya medium yang pernah diciptakan yang tidak memiliki batasan usia. Maksudnya, orang dapat menggunakannya dalam tahun-tahun awal dan akhir dari kehidupan mereka, dan juga tahun-tahun diantaranya.
Televisi berada di dalam lebih 98 persen rumah di Amerika serikat. Keunikan televisi adalah televisi tidak membutuhkan kemampuan membaca, sebagaimana media cetak. Televisi tidak seperti film, televisi pada dasarnya gratis (selain biaya yang dikeluarkan pertama kali untuk pesawat dan biaya iklan yang ditambahkan para produk-produk yang kita beli). Televisi tidak seperti radio, televisi mengombinasikan gambar dan suara.
Televisi tidak membutuhkan mobilitas, sebagaimana pergi ke tempat ibadah minsalnya, atau pergi ke bioskop atau teater.
B. Dampak dari Televisi
Berbara Wilson dan koleganya (Wilson, Martin, & Marske, 2005) menemukan bahwa orang tua yang memberikan perhatian besar pada berita televisi berpikir bahwa anak-anak mereka memiliki resiko penculikan yang lebih besar dibandingkan orang tua yang lebih jarang menonton televisi.
Berdasarkan asumsi ini, Analisis Kultivasi memberikan cara pemikiran alternative mengenai kekerasan dalam TV. Beberapa teori, seperti teori pembelajaran Sosial-Social Learning Theory (Bandura, 1977), mengasumsikan bahwa kita cenderung melakukan kekerasan setelah terpapar kekerasan itu sendiri.
Pendekatan lain,seperti pemikiran mengenai katarsis, menyatakan bahwa menonton kekeraskan akan membersihkan diri kita dari dorongan untuk melakukan kekerasan dan tindakan melakukan kekerasa menjadi berkurang. Analisis Kultivasi tidak menyatakan mengenai apa yang kita lakukan berdasar menonton televisi yang penuh kekerasan melainkan, teori ini mengasumsikan bahwa menonton televisi yang penuh dengan kekerasan akan membuat kita merasa takut karena televisi menanamkan di dalam diri kita dunia yang kejam dan berbahaya.
C. Dampak dari Televisi terbatas
Asumsi ini terdengar aneh, namun kontribusi kepada budaya yang dapa diamati, diukur, daan idependen relatif kecil. Ukuran dari dampak jauh lebih tidak penting dibandingkan dengan arah ari kontribusinya yang berkelanjutan (Gerbner Gross, Morgan, & Signorielli, hal. 14).
Argumen ini menyatakan bahwa dampak dari televisi tidak memiliki konsekuensi. Sebaliknya, walaupun dampak televisi terhadap budaya yang dapat diukur, diamati, dan idependen pada suatu titik waktu tertentu mungkin terlihat kecil, dampak ini tetapi tetap saja ada dan signifikan. Lebih lanjut, Gerbner dan koleganya menyatakan bahwa ini bukan merupakan kasus dimana menonton tayangan program televisi tertentu akan menyebabkan suatu perilaku tertentu, tetapi menonton secara umum memiliki dampak yang kumulatif dan menyebar luas terhadap pandangan mengenai dunia.
Analisis Kultivasi sebagai Teori Kritis
Kultivasi terkadang dianggap sebagai kembalinya pandangan mengenai media massa yang memiliki dampak yang kuat.
Analisis Kultivasi sebagai teori yang kritis mempelajar institusi sosial yang penting dalam hal bagaimana ia menggunakan fungsi penceritaan kisahnya untuk kepentingan satu pihak dibandingkan kepentingan seluruh masyarakat yang lebih luas. Selain itu, Analisis Kultivasi juga memiliki karakteristik yang sama dengan teori kritis lainnya dalam menerima asumsi-asumsinya.
Analisis Kultivasi Berdasarkan Paradigma Epistemologi
White dan David Klien (2002) membahas mengenai tiga perbedaan filosofi dari Ontologi, epistemologi, dan aksiologi secaea terpisah. White dan Klein memberikan label pada tiga cara filosofis ini sebagai positivistik, interpretif, dan kritis. Tiga bentuk filosofi ini sesuai tiga cara pandang (empirisme, hermeneutika, dan teori kritis) yang dikaji oleh Arhur Bochner (1985).
Kebanyakan orang menemukann titik tengah yang mewakili cara pandang mereka terhadap dunia dengan di dasarkan pada tiga filosofi ini.
Pendekatan Positivistik atau Empiris ( Kuantitatif )
Pendekatan posivistik atau empiris beramsusi bahwa kebenaran objektif dapat dicapai dan bahwa proses meneliti untuk menemukan kebenaran dapat dilakukan, paling tidak, dengan bebas dari nilai. Tradisi ini mendukung metode ilmu alam, dengan tujuan untuk memberi membentuk teori yang bersifat umum dalam mengatur interaksi manusia.
Pendekatan Interpretif atau Hermeneutik ( Kualitatif )
Pendekatan Interpretif atau hermenutik melihat kebenaran sebagai sesuatu yang subjektif dan partisipasi peneliti sangat ditekankan.
Pendekatan Kritis
Pendekatan Kritis adalah Pendekatan yang menekankan pada tanggug jawab peneliti untuk mengubah ketidakadilan dalam kondisi status quo. Status quo berasal dari bahasa Latin, artinya 'keadaan tetap sebagaimana keadaan sekarang atau sebagaimana keadaan sebelumnya'. Jadi, mempertahankan status quo berarti mempertahankan keadaan sekarang yang tetap seperti keadaan sebelumnya.
Analisi Secara Kultivasi Secara Epistemologi kita dapat melihat Secara Posisi Objektivitas. Bahwa Televisi seharusnya menyajikan Program atau Berita secara Objektif dan Mendidik. Tanpa ada tambahan karangan cerita. yang dimana tayangan televisi harus memiliki tanggung jawab terhadap Kebenaran dari Program atau Berita yang mereka tayangkan. Sedangkan Secara Posisi Subjektivitas. Program Acara televisi tidak harus Objektif. Kita dapat memberikan sedikit tambahan cerita dalam Berita yang kita Siarkan agar lebih menarik dan banyak diminati. Contohnya seperti Sinetron.
Tetapi Seperti yang kita ketahui. Di Indonesia terdapat 2 Chanel TV Stasiun Swasta yang Memihak pada Salah satu Calon Presiden. Chanel A lebih Pro untuk memberitakan Presiden ini dan Menayangkan Keunggulan dari Calon Presiden ini. Dan Sebaliknya Chanel B. Sehingga disini terlihat Subjektivitas Dalam Penayangan Televisi.
Oke. Sahabat Kreatifitasi. Sekian Blog saya tentang Paradigma Epistemologi. Sampai Berjumpa diBlog saya berikutnya :) .
Daftar Pustaka
Erna Febriani, Dani Vardiansyah. (2017) Filsafat Ilmu Komunikasi: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi : Universitas Esa Unggul
West & Turner. (2008). Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.
Baktiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
href="http://permathic.blogspot.com/2012/05/kumpulan-animasi-bergerak-yang-lucu-dan.html" target="_blank">My Widget

